Rabu, 04 November 2015

Penandatanganan Prasasti Perpustakaan PBNU


 
Dalam era informasi sekarang ini, kita akan sulit mengejar kemajuan dalam segala bidang kehidupan tanpa menyediakan sumber informasi. Oleh sebab itu peranan perpustakaan sangat dibutuhkan sebagai sumber atau jendela informasi dan ilmu pengetahuan yang dapat memberika peluang luas untuk mencapai kemajuan dan pengembangan diri.

Perpustakaan sangat dibutuhkan kehadirannya karena diharapkan dapat menumbuhkan budaya baca , mengembangkan tradisi keilmuan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Menyadari hal tersebut diatas NU sebagai organisasi terbesar di Nusantara ini telah menyediakan ruang khusus yang dijadikan sebagai perpustakaan, yang mana ruang tersebut telah diresmikan pada 1 Muharram 1427 H atau tepatnya pada tanggal 31 Januari 2006, Peresmian tersebut ditandai dengan penandatanganan batu prasasti oleh Rais' Aam PBNU (Dr.KH.M.A. Sahal Mahfudh) dengan Ketua Umum PBNU ( Drs.KH.A. Hasyim Muzadi).

Dengan diresmikannya ruang Perpustakaan yang terletak di Jl. Kramat Raya no.164, lt.2 gedung PBNU ini diharapkan bermanfaat bagi organisasi, penulis, dan peneliti tentang Nahdlatul Ulama (NU). 

Rabu, 23 April 2014

Revisi Artikel


Judul: Networking of libraries and information centres: Challenges in India (Jaringan Perpustakaan dan pusat informasi: tantangan di India)

Penulis: Siriginidi Subba Rao 

Sumber: Library Hi Tech:2001;19,2;Proquest pg.167-178

Review Artikel

Penulisan ini bertujuan untuk lebih fokus membahas pada status jaringan komunikasi yang ada di perpustakaan dan informasi ( LINs) serta tantangan untuk perubahan jaringan perpustakaan dan pusat informasi di India( LICs) dalam transformasi LICs dari media tradisonal ke media digital. Sehingga LICs dapat promosi untuk berbagi sumber antar anggotanya, mengembangkan jaringan LICs, mengumpulkan, menyimpan dan menyebarkan informasi, menyediakan layanan komputerisasi untuk pengguna; dan melakukan upaya koordinasi untuk pembangunan koleksi dalam hal mengurangi duplikasi yang tidak terlalu diperlukan.
Artikel ini mengidentifikasi bahwa  pusat perpustakaan dan informasi (LICs) perlu menjalani perubahan jaringan, dan daftar jaringan komunikasi yang ada seperti (INDONET, ERNET, NICNET, GPSS, RABMN, INET) serta Jaringan perpustakaan dan informasi seperti  (INFLIBNET, DELNET, BTIS, SIRNET, TIFACLINE, CALIBNET, MALIBNET, BONET, MYLIBNET, PUNENET, dll) di India. Paradigma yang terjadi menyebutkan  bahwa LICs perlu menjalani tantangan untuk perubahan jaringan mereka, dan melakukan  transformasi LICs tradisional ke media digital.
Hasil dari pembahasan artikel ini Pertama: membahas mengenai Pusat Jaringan Perpustakaan dan Informasi (LICs) dimana membahas faktor utama yang menyebabkan perlunya dilakukan perubahan jaringan di India. Hal ini tertuang dalam pernyataan “Perpustakaan dan pusat jaringan informasi ( LICs )di India bisa menghabiskan lebih dari rs 5.000 juta per tahun dalam hal pengadaan koleksi perpustakaan yang baru dan  dari itu sekitar rs 2.000 juta dihabiskan untuk akuisisi jurnal luar negeri , Peningkatan harga tahunan dari koleksi ini dapat diartikan bahwa keuangan organisasi mengalami kesulitan dalam memenuhi biaya mereka. Selain itu peningkatan informasi pada perkiraan dari 13 persen per tahun telah membuat tugas organisasi dalam hal penyediaan koleksi dan pengambilan informasi sangat sulit”. Kedua: membahas jaringan komunikasi yang ada di India seperti INDONET, ERNET, NICNET, GPSS, RABMN, INET. Dimana masing-masing jaringan komunikasi tersebut dijelaskan tujuan dan manfaatnya. Ketiga: membahas mengenai jaringan perpustakaan dan informasi yang telah dikembangkan di India sejak tahun 1988, diantaranya adalah INFLIBNET, DELNET, BTIS, SIRNET, TIFACLINE, CALIBNET, MALIBNET, BONET, MYLIBNET dan PUNENET. Dimana semuanya ini terdapat pada pernyataan“Recognizing the importance and need for the optimum utilization of available resources several libraries and information networks (LINs) have been developed in different parts of India since 1988. The existing ones include: * the Information and Library Network (INFLIBNET);  the Delhi Library Network (DELNET); the Biotechnology Information System (BTIS); the Scientific and Industrial Research Network (SIRNET);  the Technology Information System (TIFACLINE); the Calcutta Library Network (CALIBNET); the Madras Library Network (MALIBNET); the Bombay Library Network (BONET); the Mysore Library Network (MYLIBNET); and  the Pune Library Network (PUNENET); Information and Library Network (INFLIBNET) .”Keempat: Membahas tantangan yang akan dihadapi LICs yang dituangkan dalam pernyataanAccording to experts, the projected type of paradigm change that LICs will undergo includes shifts in direction and basic functions. These shifts include:  from library-centered to information-- centered to knowledge-centered”, selain itu juga dituangkan pernyataan cara mengatasi tujuan untuk tantangan yang akan dihadapi, pengembangan Infrastruktur Informasi Nasional (NII), dan hal-hal yang terlibat dalam tantangan konversi perpustakaan yang di tuangkan dalam pernyataanThe challenges faced in converting library contents into computer readable form involves human and financial considerations”.
Setelah membaca keseluruhan resume artikel diatas saya mendapati penulis telah menuliskan secara jelas bahwa penulisan artikel ini bertujuan untuk lebih fokus membahas pada status jaringan komunikasi yang ada di perpustakaan dan informasi ( LINs) serta tantangan untuk perubahan jaringan perpustakaan dan pusat informasi di India( LICs) dalam transformasi LICs dari media tradisonal ke media digital. Sehingga pembaca  dapat mengetahui atau menganalisa hal-hal pokok apa saja yang nanti akan dibahas dalam artikel ini.
Terlepas dari tujuan, artikel ini juga memuat abstrak yang menurut saya sulit untuk mendapatkan sedikit gambaran dari artikel ini, seharusnya di dalam abstrak tersebut disinggung pula mengenai gambaran faktor utama dilakukannya alih media digital serta sedikit gambaran tentang hasil rencana yg telah dilakukan sebelumnya, agar pembaca lain memiliki gambaran tentang kesimpulan yang tiba – tiba dinyatakan dalam abstrak artikel ini. Pernyataan kesimpulan tersebut terdapat pada It concludes that, although India has drawn up ambitious plans, it has not seen the benefits that could come from employing these facilities to improve the socio-economic conditions of its citizens or help it emerge as an economic superpower”.
Untuk isi artikel, Isi yang pertama sudah cukup menarik, karena penulis menjelaskan faktor utama mengapa LICs dirasa perlu mengadakan perubahan alih media ke digital. Isi artikel yang kedua dan ketiga, sudah cukup menarik pula karena penulis menjelaskan pengertian, tujuan, dan manfaat jaringan yang berkaitan dengan jaringan komunikasi dan jaringan informasi yang dikembangkan di India. Akan tetapi  untuk isi kedua dan ketiga ini saya merasa kurang bisa memahami kandungan informasinya karena dalam isi tersebut hanya membahas tujuan dan manfaat dari masing-masing jaringan komunikasi dan perpustakaan yang ada. Menurut saya mungkin akan lebih baik apabila dalam masing-masing penjelasan diberikan contoh dari hasil pengembangan jaringan informasi yang sama, dimana sebelumnya sudah dilakukan oleh negara lain. Jadi dari contoh tersebut pembaca bisa paham mengapa jaringan komunikasi dan pengembangan informasi yang ada tersebut layak untuk dijadikan sebagai pendukung bagi LICs dalam mengahadapi tantangan perubahan jaringan tradisional ke media digital. Untuk isi artikel yang keempat, penulis tuliskan dengan sangat jelas langkah-langkah cara menghadapi tantangan yang akan dihadapi oleh LICs nantinya, mulai dari cara pengembangan infrastruktur informasi nasionalnya, gambaran hasil yang nantinya dapat diperoleh dari menjalankan tantangan ini, serta bagaimana cara melibatkan sumber daya manusia dan sumber daya keuangan, agar tantangan ini berhasil dilakukan. Hal ini tertuang dalam pernyataan The challenges to vision can be surmounted using the three Is - intelligence, imagination and an integrated approach that brings the maximum benefit to the maximum number of people” dan The challenges faced in converting library contents into computer readable form involves human and financial considerations
Kesimpulan dari penulisan cukup menjelaskan tujuan dari penulisan. Hanya saja gambaran – gambaran yang terstruktur dari hasil pengembangan jaringan informasi yang sama dimana sebelumnya sudah dilakukan oleh negara lain belum ada di artikel ini, jadi dalam kesimpulanpun juga masih di pertanyakan lagi bagaimana pembangunan fasilitas ini akan menguntungkan dan memperbaiki kondisi sosial-ekonomi warga India, pernyataan ini terdapat dalam kalimat how establishing these facilities will benefit and improve the socio-economic conditions of India's citizens’’.


Jumat, 18 April 2014

Paper Ilmu Komunikasi Perpustakaan




  Konvergensi Media Komunikasi Perpustakaan
Disusun Oleh: Sasmita Anggraini
___________________________________________________________________________________ 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam dunia Perpustakaan saat ini kita sebagai manusia modern, haruslah mengenal dengan adanya Konvergensi Media Komunikasi Perpustakaan. Konvergensi Media Komunikasi Perpustakaan haruslah kita kenal dan kuasai, karena dengan kecanggihan-kecanggihan teknologi yang ada pada zaman sekarang ini,kita di mudahkan untuk mendapatkan informasi-informasi yang kita butuhkan.
Pengertian dari Konvergensi Media Komunikasi Perpustakaan itu sendiri adalah dimana penggabungan media-media yang ada untuk digunakan dan diarahkan sebagai satu titik tujuan dalam melakukan komunikasi. Konvergensi Media Komunikasi Perpustakaan ini biasa merujuk terhadap perkembangan teknologi komunikasi digital dan merujuk terhadap perkembangan budaya masyarakat di era modern saat ini.
Perpustakaan memiliki alasan yang sangat kuat untuk menggunakan Konvergensi Media ini sebagai alat komunikasi, sebab dengan adanya konvergensi media komunikasi di perpustakaan, dapat membantu pemustaka pada umumnya baik pemustaka jarak jauh ataupun pemustaka yang biasa datang langsung dalam mendapatkan informasi yang mereka inginkan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian Konvergensi Media Komunikasi Perpustakaan
2.      Apa saja Konvergensi Media Komunikasi yang ada di Perpustakaan
3.      Pendorong diciptakannya Konvergensi Media Komunikasi Perpustakaan
4.      Kelemahan dan Keuntungan penggunaan Konvergensi Media Komunikasi Perpustakaan
5.      Perbandingan penggunaan Konvergensi Media Komunikasi Perpustakaan di Sekolah dan Perguruan Tinggi

C.    Tujuan
1.      Dapat Memudahkan penyampaian informasi dengan para pemustaka baik jarak jauh ataupun yang biasa datang di perpustakaan
2.      Dapat mempercepat pelayanan terhadap pemustaka
3.      Konvergensi Media Komunikasi Perpustakaan dapat mendukung belajar mengajar baik di perguruan tinggi ataupun sekolah.

_____________________________________________________________________________
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konvergensi Media Komunikasi Perpustakaan
Konvergensi Media Komunikasi Perpustakaan merupakan konvergensi dan kolaborasi pelayanan informasi atau secara istilahnya diartikan sebagai penggabungan dari media-media, unit atau layanan. Seperti konsep layanan dalam perpustakaan dan komputer yang ada untuk digunakan dan diarahkan sebagai satu titik tujuan dalam melakukan komunikasi yang biasa merujuk terhadap perkembangan teknologi komunikasi digital dan merujuk terhadap perkembangan budaya masyarakat.
 Konvergensi media komunikasi diatas dapat membentuk organisasi yang terstruktur rapi dalam memenuhi kebutuhan pelanggan atau pemustaka mereka. Secara sederhana, apabila di perguruan tinggi, konvergensi dan kolaborasi media komunikasi ini dapat menunjang pencapaian dalam tujuan akademik di perpustakaan umum karena telah meningkatkan pelayanan terhadap mahasiswa, fakultas, peneliti, dan para pemustaka lainnya.
Pada umumnya penggabungan layanan atau konvergensi media komunikasi perpustakaan lebih cenderung bergabung dengan pusat teknologi komputerisasi informasi. Misalnya, penggabungan tersebut dimulai dari layanan tradisional referensi, instruksi dan sirkulasi ke layanan digital.

B.     Macam- macam konvergensi media komunikasi di perpustakaan
Pada dasarnya macam-macam konvergensi media ada banyak yaitu Media massa konvensional yang meliputi Televisi, radio, surat kabar, Internet, dan perangkat lunak  atau software, akan tetapi dalam hal ini yang kita bahas ialah mengenai perpustakaan dimana secara khusus konvergensi media komunikasi yang digunakan diperpustakaan adalah media internet dan perangkat lunak atau yang biasa disebut juga software.
1.      Internet
Banyak fasilitas- fasilitas yang dapat kita ambil dari internet, diantaranya adalah Email,World Wide Web(Www)/ Website, File Transfer Protocol, Facebook, Twitter, Mailing List, Chat Group dll. Dari sekian banyak fasilitas tersebut perpustakaan dapat menggunakannya sebagai media perantara untuk menyediakan informasi bagi para pemustaka ataupun dapat juga saling bertukar informasi atau menjalin kerjasama dengan perpustakaan yang lain.

Sebagai salah satu contoh Internet, terutama memanfaatkan fasilitas World Wide Web-nya, akan memungkinkan banyak perpustakaan menjadi online. Perpustakaan online ini berarti bahwa database koleksinya tersambung ke Internet. Dengan demikian koleksi-koleksi yang ada di perpustakaan online dapat diakses oleh para pemustaka dalam waktu kapanpun dan dimanapun berada. Dengan Media Internet yang ada, perpustakaan dapat memberikan layanan baca buku langsung dari website tanpa harus datang langsung ke perpustakaannya, sistem ini sering dikenal dengan e-book (elektronik buku), memudahkan pemustaka dalam mengakses journal, memberikan kesempatan terhadap pemustaka yang ingin menjadi anggota perpustakaan dan masih banyak lagi yang bisa didapatkan dari website perpustakaan online.
Seperti disebutkan, besar manfaat teknologi komunikasi di Internet dan intranet. Internet memiliki beberapa keuntungan yang signifikan, terutama bila dibandingkan dengan teknologi lainnya. Pertama, sangat visual , karena  cara termudah untuk memproses informasi. Kedua, tidak seperti teknologi cetak, Internet/ intranet teknologi memungkinkan personalisasi yang lebih besar dari informasi dalam format visual yang menarik, Ketiga, teknologi Internet/ intranet lebih efisien untuk interaktivitas dan pengolahan transaksi. Internet atau intranet sebagai alat yang baik untuk mengumpulkan informasi, dan memperbarui database.
Meskipun banyak manfaat yang ditimbulkan dari adanya internet, maka tidak bisa dipungkiri bahwa internet juga memiliki beberapa kekurangan diantaranya karena internet  berinteraksi dengan mesin, teknologi ini sangat impersonal, terutama ketika kita  memerlukan bantuan dengan tugas dan satu-satunya cara untuk mendapatkan bantuan adalah melalui e - mail. Selain itu, tidak semua orang memiliki akses ke Internet atau intranet, dan ada beberapa orang yang tidak mahir dalam menggunakan PC atau enggan untuk menggunakan internet.
2.      Perangkat Lunak atau software
Sistem berbasis komputer menjadi terkenal dalam semua aspek kerja perpustakaan dan komunikasi informasi, istilah komputerisasi data Perpustakaan telah menjadi sebutan untuk berbagai macam aplikasi yang digunakan dalam perpustakaan. Berbagai software perpustakaan sedang dikembangkan untuk otomatisasi. Ketika kita berbicara tentang perangkat lunak Perpustakaan,  berarti kita membicarakan  perangkat lunak yang diperlukan untuk layanan perpustakaan dalam pencarian informasi. Hal ini disebut juga "Sistem Integrasi Perpustakaan" atau "Sistem Integrasi Otomatisasi Perpustakaan".
Menurut  Prytherch (2005),sistem otomatisasi digunakan dalam berbagai konteks, mulai dari kontrol sirkulasi, akuisisi, dan tugas penyediaan layanan katalogisasi untuk web dan database elektronik. Otomatisasi merupakan  kombinasi hardware dan software, Keduanya diperlukan untuk sistem automating. Di bidang Perpustakaan, perangkat lunak menjadi lebih penting daripada perangkat keras. Kajian pustaka mengungkapkan kriteria untuk software  perpustakaan berbeda - beda. Menurut mereka aturan yang paling penting dalam pemilihan software  adalah mengetahui apa dan mengapa aplikasi digunakan. Hal umum yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pemilihan perangkat lunak antara lain  :
1.      kemampuan software dalam mengintegrasikan beberapa modul, fitur dan kemampuan perangkat lunak untuk akses (misalnya untuk multi-user akses, akses internet,jaringan dan upgrade),
2.      kecepatan pencarian informasi standar Z39.50 dan masalah lain seperti instalasi,output dll. fungsi (alur kerja antara proses fungsional); kemampuan untuk sistem ekspansi dan upgrade.
3.       biaya dalam hal pemeliharaan, pelatihan, dokumentasi, kredibilitas
Software diperlukan sebagai pendukung terjalinnya komunikasi digital perpustakaan, Banyak jenis software yang digunakan oleh perpustakaan – perpustakaan dunia antara lain perangkat lunak yang dikembangkan oleh inmagic, inc. (INMAGIC), perangkat lunak asing perpustakaan ini digunakan di beberapa perpustakaan pertanian Pakistan. Sejumlah besar perpustakaan bekerja pada CDS/ISIS, dikembangkan oleh Unesco dan tersedia bebas biaya. Sementara beberapa perpustakaan menggunakan otomatisasi perpustakaan dan manajemen program (LAMP)merupakan perangkat lunak perpustakaan yang dikembangkan secara lokal, dirancang untuk  perpustakaan pakistan oleh perpustakaan  Belanda yang bekerjasama dengan Asosiasi Perpustakaan Pakistan (PLA). Dan selain jenis perangkat lunak tersebut ada juga perangkat lunak jenis dBASE III plus 8,  LOTUS 123,FOX-dasar, Fox Pro, KITABDAR dan PAK software perpustakaan. Akan tetapi  Mahmood (1997, 1998) telah menunjukkan lebih dari 30 nilai plus dari mikro CDS/ISI merupakan software perpustakaan terbaik untuk negara-negara berkembang.

C.    Pendorong diciptakan konvergensi media komunikasi di perpustakaan
Konvergensi Media Komunikasi Perpustakaan ini diciptakan karena sebagai bentuk alat untuk memenuhi kekurangan-kekurangan pengguna perpustakaan dan lingkungan fisik, khususnya pada estetika dan keterbatasan fasilitas yang ada diperpustakaan. Karena hal tersebutlah Konvergensi Media Komunikasi Perpustakaan dirasa dapat menggambarkan desain perencanaan dan pelaksanaan seni media yang baru, serta dapat memenuhi kebutuhan dan aspirasi dari pengguna media. Penegasan penting  hal ini adalah bahwa estetika dan desain interior yang baik dapat memainkan peran penting dalam persepsi positif pengguna perpustakaan.
Diuraikan dari permasalahan keterbatasan fasilitas yang ada, mendorong perpustakaan untuk menciptakan konvergensi media, buktinya adalah perpustakaan dapat mengembangkan suatu perpustakaan sebagai media komunikasi digital, Komunikasi itu missal melaui website, facebook, e-mail,dll. Dimana semua lapisan masyarakat yang dulunya mencari informasi dengan mendatangi langsung perpustakaan, akan tetapi sekarang tidak seperti yang kita bayangkan, bahwasanya masyarakat diera berkembangnya perpustakan digital seperti ini, mereka dapat menemukan informasi dengan lebih mudah, serta mendapatkan pelayanan secara online tanpa harus mengantri di perpustakaan langsung.

D.    Positif dan Negatif Konvergensi Media Komunikasi Perpustakaan
Menurut pendapat saya, konvergensi media komunikasi ada segi positif dan negatifnya  diantaranya adalah:
a.       Dari segi positif :
-          Konvergensi media komunikasi memperkaya informasi secara meluas tentang apa saja yang ada di perpustakaan .
-          Praktis dan efisien bagi para pengguna, karena dengan adanya konvergensi media komunikasi ini pengguna tidak perlu datang langsung ke perpustakaan, sehingga mereka bisa mengakses informasi secara bebas dan luas dengan berbagai cara dan bentuk.
-          Membantu pustakawan dalam melayani dan memberi informasi secara cepat kepada pengguna.
-          Pengguna mendapatkan informasi lebih cepat. Contohnya, para pengguna atau pemustaka ingin membaca salah satu koleksi buku di perpustakaan secara online, hanya dengan mengklik informasi yang diinginkan di komputer maka sejenak informasi itu pun muncul.
-           Interaktif, Pengguna atau pemustaka bisa langsung memberikan umpan balik terhadap informasi-informasi yang disampaikan pustakawan.
b.      Dari segi negatif
-           Adanya ketergantungan teknologi dimana segala sesuatu menjadi serba praktis dan otomatis, cenderung menjadikan pengguna atau pemustaka yang “malas”  datang ke perpustakaan untuk mencari informasi  langsung.
-          Munculnya perpustakaan digital dengan konvergensi media komunikasi  yang maju telah mempersempit jarak dan mempersingkat waktu, misalnya pemustaka lebih senang bisa saling berkomunikasi melalui internet tanpa perlu bertemu langsung. Hal ini menimbulkan pemustaka maya dimana komunikasi langsung secara face to face sudah tidak diminati lagi.

E.     Perbandingan Konvergensi Media Komunikasi Perpustakaan Sekolah dengan Perpustakaan Perguruan Tinggi
1.      Konvergensi Media Komunikasi Perpustakaan Perguruan Tinggi
Pada umumnya layanan konvergensi media komunikasi cenderung bergabung dengan pusat teknologi komputerisasi informasi dengan perpusttakaan. Namun, sebagai rincian dalam studi Hernon dan Powell, ada banyak konfigurasi yang lain yang dapat dipertimbangkan dalam layanan konvergensi media komunikasi. Diantaranya buku, buku merupakan sesuatu yang dapat menentukan keuntungan dan kerugian dalam layanan konvergensi media komunikasi.
Di perguruan tinggi layanan yang dapat mempengaruhi konvergensi media komunikasi menjadi lebih terlibat dalam kegiatan belajar mahasiswa, mengurangi tumpang tindih dan redudansi dalam layanan, meningkatkan keahlian, serta meningkatkan visibilitas di perpustakaan kampus. Layanan konvergensi media komunikasi perguruan tinggi lebih banyak berisi informasi akademik yang relevan.
Konvergensi media komunikasi perguruan tinggi pelayanan – pelayanan yang diberikan lebih banyak dan spesifik, karena bisa diakses oleh masyarakat luar perguruan tinggi. Adapun tidak semua perguruan tinggi yang membolehkan masyarakat luar bisa mengakses keseluruhan layanan, ada perguruan tinggi yang memiliki persyaratan – persyaratan tertentu.
2.      Konvergensi Media Komunikasi Perpustakaan Sekolah
Konvergensi media komunikasi perpustakaan sekolah sangat berbeda dengan konvergensi yang ada di perguruan tinggi, di perpustakaan sekolah konvergensi media komunikasi melalui digital kurang begitu diperhatikan, karena untuk tingkat sekolah tugas-tugas sekolah yang harus melibatkan mereka dengan perpustakaan jarang dilakukan.
Akan tetapi tidak semua hal tersebut ada pada perpustakaan sekolah, ada beberapa perpustakaan sekolah yang memperhatikan konvergensi media komunikasi, Contohnya di sekolah Darmouth, agar para siswa mereka lebih dekat dan mengenal arti dari perpustakaan, Maka sekolah tersebut mewajibkan siswanya untuk mengunjungi perpustakaan setelah ataupun sebelum sekolah, dan akhirnya setelah dievaluasi hal tersebut sukses dilakukan karena hampir setiap bulannya ada hampir 10.000 pengunjung.
Setelah diteliti , hal apa yang mendorong para siswa tertarik ke perpustakaan, ternyata dari segi fasilitas, sekolah tersebut memberikan banyak fasilitas yang menarik bagi para siswa yang berkunjung diantaranya perpustakaan dibentuk dengan gaya piramida, mengajarkan Common study, meminjamkan elektronik yang mereka butuhkan antara lain kamera digital dan camcorder, Mp3 player, akses wi-fi yang dapat diandalkan, meminjamkan 40 unit laptop dan netbook, serta puluhan desktop computer.Menyadari perpustakaan tersebut sebagai pusat media, perpustakaan yang ada di Darmouth tersebut bisa diakses oleh para siswa, orang tua siswa, penulis, guru, serta anggota bisnis lainnya.
_________________________________________________________________________                                                                                                
BAB III
KESIMPULAN
Dari berbagai rumusan masalah yang telah diuraikan dapat diambil kesimpulan bahwa Konvergensi media komunikasi di perpustakaan diatas dapat membentuk organisasi yang terstruktur rapi dalam memenuhi kebutuhan pelanggan atau pemustaka mereka. Pada umumnya penggabungan layanan atau konvergensi media komunikasi perpustakaan lebih cenderung bergabung dengan pusat teknologi komputerisasi informasi. Misalnya, penggabungan tersebut dimulai dari layanan tradisional referensi, instruksi dan sirkulasi ke layanan digital.
Selain itu internet dan perangkat lunak / software sangat berperan sebagai pendorong diadakannya konvergensi media komunikasi di perpustakaan, karena dengan adanya fasilitas tersebut para pemustaka yang ingin mencari informasi tidak harus mengantri di perpustakaan, Dan konvergensi media komunikasi tidak hanya berguna diperguruan tinggi saja, akan tetapi juga berguna di sekolah, hal ini di contohkan oleh sekolah Darmouth, dengan membuktikan bahwa mereka berhasil menyampaikan arti penting suatu perpustakaan kepada para siswanya dengan mengguna konvergensi media komunikasi yang ada.

_________________________________________________________________________

Daftar Pustaka
Switzer, T. (2009, Convergence and collaboration of campus information services. Library Leadership&Management, 23, 217-218.
                     
Laurie Dias-Mitchell. (2010). A harmonic convergence in the school library. Teacher Librarian, 38(1), 32-33.

Leo, R. K. (2000). Media convergence library-style. Library Journal, , 28-30.

Garibaldo, F. (2002). Information and communication technologies, organisations and skills: Convergence and persistence. AI & Society, 16(4), 305-331.

Degkwitz, A. (2006). Convergence in germany: The information, communication and media center (ICMC/IKMZ) of cottbus university. Library Hi Tech, 24(3), 430-439.

Shafique, F., & Mahmood, K. (2008). Integrated library software: A survey of lahore. Library Hi Tech News,25(6), 6-13. doi: http://dx.doi.org/10.1108/07419050810912805
_
William, J. S. (2002). Utilizing benefit communication technology. Employee Benefits Journal, 27(2), 19-22.

Dong-Hee Shin. (2006). Convergence of telecommunications, media and information technology, and implications for regulation. Info : The Journal of Policy, Regulation and Strategy for Telecommunications,Information and Media, 8(1), 42-56.

Dobson, C., & Ernst, C. (2000). Selecting software for the digital library. EContent, 23(6), 27-32.